HeadlineKaltimKutai Timur

Petani Rawa Gabus Gagal Panen, Tanah Retak Hingga Sumber Air Mengering

Upnews.id, Sangatta – Fenomena El Nino yang memicu kemarau panjang hingga dalam beberapa bulan terakhir menghantam keras sektor pertanian di Kecamatan Sangatta Selatan, Kabupaten Kutai Timur.

Kekeringan ekstrem tidak hanya mematikan sumber air, tetapi juga menggagalkan panen sayur dan buah, hingga memicu kerugian hingga ratusan juta rupiah bagi para petani di kawasan centra pertanian sayur Rawa Gabus.

Baca juga : Lindungi Petani dan Kukuhkan Pangan, Kutim Luncurkan Asuransi Tani Sinergi Teknologi Pertanian

Kondisi kritis ini dialami langsung oleh Ketua Kelompok Tani Adem Ayem di Kelurahan Singa Geweh. Lahan seluas 3 hektar yang dikelola olehnya dan diproyeksikan dapat memasok kebutuhan sayur-mayur Kota Sangatta, kini retak dan mengering total.

Ketua Kelompok Tani Adem Ayem, Djunaidi, mengungkapkan bahwa 12 anggota kelompoknya kini berada di titik nadir, karena harapan untuk memanen apa yang sebelumnya mereka tanam, tampaknya layu.

Djunaidi mengaku, untuk tanaman buah Melon sudah dipastikan gagal panen. Karena tanah yang pecah-pecah dan kekurangan air saat mulai berbuah, membuat tanaman pun mati. Estimasi kerugian dari gagal panen buah melon saja mencapai kurang lebih Rp70 juta.

Hal serupa juga terjadi pada tanaman Bawang Prei yang alami gagal panen, lantaran mengering sebelum dipanen. Dimana biasanya dirinya mampu menghasilkan 300 Kg sekali panen, kini tinggal gigit jari.

“Petani Rawa Gabus ini sudah menangis darah. Karena apa? kemarau yang panjang seperti ini membuat mau bertanam menunggu hujan, iya kalau hujan itu diturunkan. Kalau enggak diturunkan petani itu nekat gali sumur. Nah, sumur ini ya sudah dalam juga, dan lagi enggak besar juga mata airnya. Jadi ibarat petani itu hampir rata-rata Kecamatan Selat Sangatta Selatan ini menangis,” sebut Djunaidi saat ditemui awak Upnews.id didampingi petani lain.

Baca juga : Peneliti BRIDA Kutim Kaji Kerugian Finansial Dialami Petani Sawit Jika Gunakan Bibit Non Sertifikat

Untuk menyambung hidup, Djunaidi pun mencoba menanam Kemangi. Namun nasibnya juga tidak jauh berbeda, berkhir dengan kering karena panas yang terik dan air yang kurang.

Sementara untuk tanaman cabai, meski tetap berbuah namun hasil panennya terjun bebas. Yang biasanya dalam 1 hektar mampu panen hingga 20 ton, kini hanya sekitar 200 Kg.

Gagal panen buah melon
Parit besar ikut mengering
Penampungan Air Kering
Sisa-sisa air di sumur
Tanah Retak-retak
Gagal panen buah melon Parit besar ikut mengering Penampungan Air Kering Sisa-sisa air di sumur Tanah Retak-retak

Krisis air di Rawa Gabus tergolong parah karena parit besar yang menjadi tumpuan utama irigasi telah kering kerontang tanpa menyisakan air setetes pun. Begitu pula dengan sumur-sumur sebagai sumber pengairan, kini kondisinya sudah mendangkal.

Baca juga : Dukung Produksi Pertanian Kukar, Distanak Kukar Bangun Sumur Bor di 89 Titik

Kondisi kian parah justru dialami oleh petani Rawa Gabus yang masuk ke dalam, sumur mereka telah terkontaminasi instrusi air laut. Sehingga airnya payau dan tidak dapat digunakan untuk menyiram tanaman.

“Kekeringan panjang tahun ini yang terparah, semenjak saya menjadi petani di sini,” tutup Djunaidi. (An/Dr)

Baca Juga

Back to top button