Jemput Bola ke Kombeng, DPPKB Kutim Sasar 363 Keluarga Risiko Stunting — Intervensi Tepat Sasaran Demi Target Zero Stunting
upnews.id Sangatta — Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Kutai Timur terus mempertegas langkah pencegahan stunting melalui intervensi yang terarah dan terukur. Kali ini, layanan Jemput Bola Penanganan Keluarga Risiko Stunting (KRS) digelar di Aula Kantor Camat Kombeng, Kamis (27/8/2026), menyasar 363 Kepala Keluarga yang tersebar di tujuh desa di kecamatan tersebut.
Pelaksana Harian (Plh) Kepala DPPKB Kutim, Yuriansyah T, menegaskan pembagian peran yang jelas: DPPKB fokus pada pencegahan dan penanganan faktor risiko sosial-ekonomi keluarga, sedangkan Dinas Kesehatan menangani aspek medis anak stunting. “Data KRS diverifikasi dan diperbarui setiap tahun melalui Sistem Informasi Keluarga (SIGA) sehingga kevalidannya terjamin. Keluarga yang sudah lepas dari indikator risiko akan langsung dikeluarkan dari basis data,” ujarnya.
Sebaran 363 KRS di Kombeng meliputi: Desa Miau Baru 132 KK, Marga Mulya 69 KK, Makmur Jaya 55 KK, Suka Maju 49 KK, Sido Mulya 34 KK, Kombeng Indah 15 KK, dan Sri Pantun 9 KK. Angka tersebut mendorong DPPKB menempuh strategi jemput bola agar intervensi benar-benar tepat sasaran dan dirasakan langsung oleh masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, DPPKB memfasilitasi penyaluran bantuan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dari BAZNAS kepada keluarga penerima manfaat. Materi teknis disampaikan oleh Kabid Pengendalian Penduduk Tristiningsih, serta pemaparan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Anak Stunting (Genting) oleh Kabid Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga Ani Saida.
Yuriansyah juga mengajak dunia usaha untuk turut berperan aktif. “Kami sangat memerlukan kontribusi mitra swasta. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama agar jumlah KRS di Kutim terus berkurang sesuai target yang ditetapkan,” tambahnya.
Camat Kombeng, Petrus Ivung, menyambut baik langkah tersebut dan mengimbau seluruh elemen masyarakat, termasuk perusahaan swasta di wilayahnya, untuk bersinergi mengejar target zero stunting. Rangkaian kegiatan ditutup dengan kunjungan langsung ke rumah warga, salah satunya Ibu Risma di Desa Sido Mulya — menyerahkan bantuan sekaligus memberikan edukasi kesehatan untuk mendampingi pemulihan gizi anaknya.
Langkah ini membuktikan bahwa penanganan stunting di Kutim dilakukan secara menyeluruh — dari data yang akurat, intervensi yang cepat, hingga sinergi lintas sektor yang kuat. (Ir/adv)





