15 Desa di Kutim Resmi Jadi Desa Siaga TBC, Dinkes Kutim Genjot Eliminasi TBC Hingga ke Tingkat Akar Rumput
upnews.id Sangatta — Sebanyak 15 desa di Kabupaten Kutai Timur resmi ditetapkan sebagai Desa Siaga TBC dalam peluncuran program yang digelar di Ruang Ruhui Rahayu, Kantor Gubernur Kaltim, Selasa (11/8/2026). Ke-15 desa tersebut menjadi bagian dari 78 Desa Siaga TBC se-Kalimantan Timur yang diharapkan menjadi garda terdepan dalam penanggulangan penyakit tuberkulosis hingga ke tingkat paling dekat dengan masyarakat.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim, dr. Yuwana Sri Kurniawati, yang hadir mewakili Pemkab Kutim dalam kegiatan tersebut, menegaskan bahwa peran desa sangat krusial mengingat Indonesia menempati peringkat kedua dunia dalam jumlah kasus TBC. “Penanggulangan TBC tidak bisa hanya bertumpu pada fasilitas kesehatan. Desa adalah garis pertahanan terdepan — di sanalah kasus dapat ditemukan lebih dini, penularan dapat diputus, dan pengobatan dapat dipantau secara berkelanjutan,” ujar Yuwana.
Desa Siaga TBC bukan sekadar status, melainkan wadah pemberdayaan masyarakat yang mampu melakukan deteksi dini, penemuan kasus melalui skrining aktif, pelacakan kontak erat, hingga pendampingan pengobatan hingga tuntas. Pendekatan jemput bola ini dilakukan agar warga tidak perlu menunggu datang ke puskesmas, melainkan dideteksi sejak dini di lingkungannya sendiri. Kader kesehatan juga berperan aktif memberikan edukasi, memantau kepatuhan minum obat, sekaligus membantu mengikis stigma sosial yang kerap membuat penderita enggan berobat.
“Pengobatan TBC bisa berlangsung hingga enam bulan. Kepatuhan adalah kunci kesembuhan sekaligus mencegah penularan lebih luas. Di sinilah peran kader dan tokoh masyarakat sangat dibutuhkan — berada di tengah warga, menjadi jembatan antara pasien dan layanan kesehatan,” jelas Yuwana.
Program ini juga mengintegrasikan peran perangkat desa, puskesmas, kader kesehatan, tokoh masyarakat, dan lintas sektor lainnya. Pemkab Kutim menargetkan, kehadiran 15 Desa Siaga TBC ini dapat menjadi percontohan bagi desa-desa lainnya untuk segera menyusul, sehingga jejaring pencegahan semakin meluas dan target eliminasi TBC pada tahun 2030 dapat dicapai bersama.
“Kita ingin perang melawan TBC tidak hanya dilakukan di ruang pemeriksaan, tetapi di setiap lingkungan, setiap rumah. Semakin banyak mata yang mengawasi, semakin banyak tangan yang membantu, semakin dekat kita dengan bebas dari TBC,” pungkas Yuwana.(Ir/adv)






