Kutai Timur

Serat Daun Nanas Hiba Lestari Dilirik Jadi Sumber Ekonomi Baru

Upnews.id, Sangatta — Nanas asal Desa Hiba Lestari, Kecamatan Batu Ampar, semakin menunjukkan potensinya sebagai salah satu komoditas unggulan Kutai Timur. Selain dikenal memiliki cita rasa manis dan diminati pasar lokal, buah ini juga mulai menembus pasar luar daerah seperti Samarinda dan Berau.

Melihat perkembangan tersebut, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) mulai menyiapkan berbagai langkah untuk mendorong pengembangan industri berbasis nanas. Upaya ini sejalan dengan program prioritas Bupati Ardiansyah Sulaiman dan Wakil Bupati Mahyunadi dalam menggali dan mengembangkan potensi industri daerah.

Tak hanya berfokus pada pengolahan buah segarnya, pemerintah juga mulai melirik potensi lain yang selama ini belum banyak dimanfaatkan, yakni serat daun nanas. Bagian tanaman yang kerap dianggap limbah itu ternyata memiliki nilai ekonomi yang cukup menjanjikan.

Kepala Disperindag Kutim melalui Kepala Bidang Industri dan Perdagangan, Achmad Dony Evriady, mengatakan pihaknya tengah menjajaki pengembangan serat daun nanas bersama sejumlah instansi terkait.

“Karena produksi dari petani kita saat ini cukup banyak dan belum di manfaatkan secara optimal. Maka, kami mencoba untuk untuk mengembangkan serat buah nanas bersama dengan instansi terkait,” ujarnya saat ditemui di Ruang Kerjanya, Kamis (18/6/2026).

Sebagai langkah awal, Disperindag Kutim bersama Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) serta Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) melakukan kunjungan lapangan ke Desa Hiba Lestari. Kunjungan tersebut bertujuan melihat langsung potensi yang ada sekaligus berdiskusi dengan pemerintah desa dan para petani mengenai peluang pengembangan komoditas nanas.

Selain membahas pengolahan hasil buah, kunjungan itu juga difokuskan untuk mengidentifikasi peluang pemanfaatan serat daun nanas sebagai bahan baku industri kreatif dan berbagai produk bernilai tambah.

“Dari informasi yang di sampaikan bahwa lahan produktif yang di gunakan untuk pengembangan nanas di sana (Himba Lestari) sudah mencapai 250 hektare,” ucap Dony.

Menurutnya, selama ini daun nanas yang dihasilkan dari aktivitas pertanian sebagian besar hanya menjadi limbah. Padahal, serat yang terkandung di dalamnya memiliki karakteristik kuat, ringan, dan ramah lingkungan sehingga berpotensi digunakan sebagai bahan baku tekstil, kerajinan tangan, material komposit hingga produk kertas.

Potensi tersebut bahkan mulai menarik perhatian pelaku usaha dari luar daerah.

“Bahkan sudah ada tawaran masuk dari Jawa Barat, dan untuk satu kilogramnya nilainya cukup menjanjikan yakni Rp 12000, ini menjadi salah satu bukti kalau memang komoditas ini (serat daun nanas) memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan,” ungkapnya.

Meski demikian, Dony mengakui masih ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi, terutama terkait kondisi geografis dan keterbatasan infrastruktur yang menjadi kendala dalam pengembangan sektor pertanian di wilayah tersebut.

Karena itu, pihaknya berencana berkoordinasi dengan berbagai instansi terkait untuk menyusun strategi pengembangan yang tepat agar potensi nanas, baik buah maupun serat daunnya, dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.

*”Yang penting mereka ada perhatian dulu. Karena kalau tidak ada perhatian dari pemerintah, dampaknya akan langsung terasa kepada para petani. salah satunya dengan alih fungsi tanam, nah, itu yang kita antisipasi,” pungkasnya.(Ir/Nt/Dr)

Baca Juga

Back to top button