EkonomiKaltimMahakam UluPemda Mahakam UluRagam

Kisah Inovasi Guru Mahakam Ulu, Sulap Pelepah Pisang Jadi Keripik Gurih

Upnews.id, Kutai Barat – Riuk pikuk pengunjung Gelar Teknologi Tepat Guna (TTG) Ke-XII Tingkat Provinsi Kalimantan Timur memadati Taman Budaya Sendawar, Kabupaten Kutai Barat, Selasa (21/7/2026) lalu. Di antara gemerlap dan deretan stan yang menampilkan berbagai teknologi canggih, ada satu sudut sederhana yang tak pernah sepi dari perhatian warga.

Di sana, tersaji “Keripik Paak Puteq” yang renyah berbahan tak biasa. Namun, yang membuat pengunjung bertahan bukan hanya rasanya yang gurih, melainkan sosok hangat di balik meja pameran itu, Tini.

Baca juga : Desa Loh Sumber Bangkit Lewat Inovasi Keripik Tempe, Libatkan PKK dan UMKM

Di balik senyum ramahnya, Tini adalah seorang pengajar yang mendedikasikan hidupnya untuk dunia pendidikan di Kabupaten Mahakam Ulu. Namun, hari itu ia melepas sejenak kapurnya. Tini hadir sebagai Ketua Kelompok Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA) Kabupaten Mahakam Ulu.

“Sehari-hari saya berprofesi sebagai pengajar. Namun, dalam kegiatan ini saya hadir sebagai Ketua Kelompok B2SA Kabupaten Mahakam Ulu. Alhamdulillah, kelompok kami sudah berdiri selama satu tahun. Dalam kurun waktu tersebut kami telah mengikuti berbagai kegiatan dan event yang memberikan banyak pengalaman,” ujar Tini membuka cerita.

Perjalanan inovasi Tini tidak lahir dari ruang hampa atau sekadar meramaikan tren usaha makanan ringan. Semua bermula dari rasa gelisahnya saat menatap sekeliling kampung halamannya di Kampung Mamahak Besar.

Di sana, pohon pisang tumbuh melimpah bak karpet hijau. Sayangnya, sebagian besar masyarakat hanya memanfaatkan buahnya. Batang dan pelepah pisang yang mengering biasanya berakhir menjadi pakan ternak atau sekadar membusuk menjadi sampah organik.

“Awalnya saya mencoba melihat persoalan sekaligus potensi yang ada di Kabupaten Mahakam Ulu, khususnya di Kampung Mamahak Besar. Setelah saya analisis, saya melihat pohon pisang sangat melimpah di daerah kami. Dari situlah muncul gagasan untuk memanfaatkan pelepah pisang menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi,” tutur Tini.

Baca juga : Ardiansyah Sebut Pisang Kepok Grecek Peluang Bisnis

Sebagai seorang guru, pola pikir kritis mendorongnya untuk bereksperimen. Bagi Tini, jika pelepah pisang bisa disulap menjadi makanan lezat, hal itu akan mengubah bahan murah meriah menjadi penopang ekonomi keluarga.

“Selama ini batang atau pelepah pisang umumnya hanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak atau kebutuhan lainnya. Dari situ saya berpikir, mengapa tidak diolah menjadi makanan? Jika berhasil diolah, tentu akan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi, apalagi bahan bakunya sangat mudah diperoleh di sekitar Mahakam Ulu,” kisahnya.

Mewujudkan ide menjadi produk layak makan bukan perkara gampang. Tini bersama kelompoknya harus melalui rangkaian uji coba yang tak terhitung jumlahnya. Kegagalan tekstur dan rasa menjadi santapan harian sebelum akhirnya mereka menemukan formulasi pas, memadukan serat pelepah pisang dengan campuran beberapa jenis tepung.

Hasilnya luar biasa. Keripik pelepah pisang buatan Tini dan Kelompok B2SA memiliki tekstur yang sangat renyah dengan cita rasa gurih yang memikat.

Baca juga : Produk UMKM Mulai Dilirik Buyer Internasional, Kualitas dan Legalitas Kian Mantap

“Menurut saya, rasanya hampir seperti keripik sukun. Karena kami menambahkan beberapa jenis tepung sebagai campuran, rasanya menjadi gurih, sedikit asin, dan teksturnya mirip keripik sukun,” terangnya sembari tersenyum.

Tak hanya keripik pelepah pisang, Tini juga memboyong produk unggulan lainnya yang diberi nama Stik Masik. Kedua produk ini sukses menjadi bintang di pameran TTG Kaltim XII.

Meski produknya kebanjiran pujian dari para pengunjung pameran, Tini tetap memijak bumi. Ia sadar, perjuangan kelompoknya baru saja dimulai. Keterbatasan alat dan waktu, karena status anggotanya yang memiliki kesibukan lain membuat kapasitas produksi mereka masih terbatas.

“Alhamdulillah, produk kami mendapat respons yang baik. Memang kendala utama kami saat ini adalah kapasitas produksi yang masih terbatas. Karena kami merupakan kelompok, produksi belum bisa dilakukan secara rutin seperti usaha yang sudah berjalan penuh,” aku Tini jujur.

Baca juga : Bupati Angela Minta OPD Mahulu Susun Program yang Berdampak Nyata

Besar harapan sang guru agar pemerintah daerah dapat memberikan suntikan pendampingan, pelatihan, serta bantuan peralatan produksi. Tini tidak ingin inovasi ini terhenti saat panggung pameran dibongkar.

Bagi Tini, mengolah pelepah pisang bukan sekadar perkara membuat camilan, melainkan cara seorang guru memberikan “pelajaran hidup” nyata bagi masyarakatnya: bahwa dengan sedikit kreativitas dan kerja keras, hal yang tak bernilai bisa dirubah menjadi sumber penghidupan baru bagi bumi Mahakam Ulu. (An/Dr-Adv)

Baca Juga

Back to top button