KesehatanKutai Timur

15 Desa Siaga TBC Berdiri, Kutim Melangkah Pasti Menuju Bebas TBC 2030

upnews.id SANGATTA — Tuberkulosis tidak akan hilang hanya dari balik dinding puskesmas. Ia harus dilawan dari tempat paling dekat dengan warga: desa dan kelurahan.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) resmi meluncurkan 15 desa dan kelurahan siaga TBC di tiga kecamatan — langkah nyata dalam mengejar target eliminasi TBC nasional pada tahun 2030.

Kepala Dinkes Kutim, dr. Hj. Yuwana Sri Kurniawati, M.Si., menegaskan pembentukan wilayah siaga ini merupakan tindak lanjut langsung Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri — Kesehatan, Dalam Negeri, dan Desa & PDT — Nomor HK.01.08/MENKES/941/2025, 400.5-4447, 415 Tahun 2025.

“Indonesia menduduki peringkat kedua dunia dalam prevalensi TBC. Ini harus menjadi prioritas. Kita tidak bisa mengandalkan fasilitas kesehatan semata. Desa menjadi garda terdepan menemukan kasus lebih dini, memutus rantai penularan, dan memastikan pengobatan tuntas.” Ungkap dr. Yuwana Sri Kurniawati, M.Si.

15 Titik Siaga TBC di Kutim

– Kecamatan Bengalon (10 desa): Tepian Baru, Tepian Indah, Tepian Langsat, Sepaso, Sepaso Selatan, Sepaso Barat, Tebangan Lembak, Sekerat, Muara Bengalon, Sepaso Timur, Keraitan
– Kecamatan Sangatta Selatan: Desa Sangatta Selatan, Kelurahan Singa Geweh
– Kecamatan Sangatta Utara: Desa Singa Gembara, Desa Swarga Bara, Desa Sangatta Utara

Kelima belas wilayah ini menjadi bagian dari 78 desa/kelurahan siaga TBC se-Kalimantan Timur yang diluncurkan Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, pada Selasa (11/8/2026).

Konsep desa siaga TBC menempatkan masyarakat bukan sekadar penerima layanan, melainkan mata, telinga, dan penggerak utama penanggulangan TBC. Warga diajak untuk:

– Mengenali gejala batuk berdahak lebih dari 2 minggu
– Berani melaporkan dugaan kasus tanpa stigma
– Mendampingi penderita berobat hingga tuntas
– Menciptakan lingkungan bebas stigma dan diskriminasi

Dinkes Kutim juga memperkuat langkah ini melalui kemitraan strategis bersama Pengurus PPTI serta Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Kutim yang diketuai Hj. Siti Robiah, guna menjangkau masyarakat lebih luas dan mendalam.

Dengan 18 kecamatan di Kutim, dr. Yuwana menegaskan 15 desa siaga ini hanyalah permulaan.

“Semoga desa lainnya segera menyusul. Target eliminasi TBC 2030 menanti. Tidak ada waktu untuk menunda. Desa yang sadar, masyarakat yang peduli — itulah benteng terkuat Kutim bebas TBC.”

Melalui gotong royong dari desa, Kutai Timur bertekad memastikan tak satu pun warga tertinggal dalam perjuangan melawan TBC. (Ir/adv)

Baca Juga

Back to top button