Turun Langsung ke Benua Baru Ilir, DPPKB Kutim Tangani Dua KRS — Sinergi Dinkes, Desa & Baznas Demi Target Zero Stunting
upnews.id Sangatta — Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Kutai Timur terus mempertegas komitmen menekan angka stunting hingga nol persen. Kali ini, Pelaksana Harian (Plh) Kepala DPPKB Kutim, Yuriansyah, memimpin langsung kunjungan lapangan ke Desa Benua Baru Ilir, Kecamatan Sangkulirang, Selasa (11/8/2026), untuk memantau dan menangani dua Keluarga Risiko Stunting (KRS) secara langsung.
Rombongan turut didampingi Sekretaris Camat Sangkulirang Suwandi, Kepala Desa Benua Baru Ilir Basir, Tim Pendamping Keluarga (TPK), Penyuluh KB, serta jajaran pejabat DPPKB — Kabid P2 Yunita Ronting, Kabid Keluarga Berencana Mustika, Kabid KS Ani Saida, dan pejabat fungsional lainnya.
Di lapangan, tim menemukan dua kondisi berbeda yang memerlukan intervensi spesifik. Keluarga pertama mengalami kurang energi kronis (KEK) saat hamil, sehingga memerlukan bantuan makanan tambahan — meskipun bayi yang lahir dalam kondisi sehat dan normal. Keluarga kedua memiliki balita berusia 14 bulan dengan pertumbuhan yang belum optimal, sehingga memerlukan pemberian makanan tambahan khusus dari Bantuan Makanan Tambahan (PMT) yang bersumber dari BAZNAS Kutim.
“Kedua keluarga ini sebenarnya sudah memiliki akses air bersih dan jamban pribadi. Mudah-mudahan dengan pemantauan ketat dan bantuan yang tepat, berat badannya akan meningkat,” ujar Yuriansyah. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada BAZNAS Kutim yang mendukung penuh program jemput bola penanganan stunting ini.
Kepala Desa Benua Baru Ilir, Basir, menegaskan komitmen pemerintah desa untuk menekan angka stunting hingga nol persen. “Kami sangat memprioritaskan hal ini. Dua yang tersisa ini, insyaallah ke depannya bisa dinolkan,” tegasnya. Sekretaris Camat Sangkulirang, Suwandi, pun menyambut baik perhatian dan sinergi lintas pihak, berharap kolaborasi ini dapat meminimalisir risiko stunting secara menyeluruh.
Salah satu ibu yang dikunjungi, Elinda Liya, mengaku sangat terbantu dan bersyukur. “Saya jadi tahu penyebabnya — berat badan dan tinggi badan yang kurang. Terima kasih atas perhatiannya,” ungkap ibu tiga anak yang rutin membawa anaknya ke posyandu setiap bulan.
Kunjungan ini bukan kegiatan berdiri sendiri, melainkan bagian dari program Layanan Jemput Bola Stop Stunting yang digalakkan Pemkab Kutim melalui DPPKB — mengubah paradigma pelayanan publik dari “menunggu datang” menjadi “mendatangi warga”. Dengan sinergi yang kuat antara DPPKB, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, dan BAZNAS, target zero stunting bukan lagi sekadar harapan, melainkan diwujudkan satu keluarga demi satu keluarga, demi memastikan generasi Kutai Timur tumbuh sehat dan optimal.(Ir/adv)





