Dinkes Kutim Kukuhkan Rumah Rehab Gizi Stunting, Langkah Nyata Capai Target Nasional 2029
upnews.id SANGATTA — Rumah Rehab Gizi Stunting di Kecamatan Sangatta Utara kini berdiri bukan sekadar sebagai ruang perawatan, melainkan wujud komitmen nyata Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutai Timur dalam menjawab tantangan besar penurunan angka stunting di daerah.
Kepala Dinas Kesehatan Kutim, dr. Yuwana Sri Kurniawati, menegaskan bahwa pembentukan rumah rehabilitasi ini merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya daerah mendukung target nasional penurunan prevalensi stunting menjadi 14,2 persen pada tahun 2029, sebagaimana tertuang dalam RPJMN 2025–2029.
“Pembentukan Rumah Rehab Gizi Stunting menjadi bagian dari upaya daerah mendukung target nasional penurunan prevalensi stunting menjadi 14,2 persen pada 2029,” ujar Yuwana.
Ia menekankan bahwa penurunan angka stunting nasional yang telah mencapai 19,8 persen pada 2024 harus diterjemahkan menjadi langkah konkret di tingkat akar rumput. Penanganan tidak boleh bersifat reaktif, melainkan harus menyeluruh sejak dini.
“Penanganan tidak cukup dilakukan setelah anak mengalami masalah pertumbuhan. Harus dimulai dari identifikasi keluarga berisiko, intervensi gizi, pemantauan tumbuh kembang, hingga penguatan peran keluarga,” tegasnya.
Untuk menjamin kualitas penanganan, Rumah Rehab Gizi Stunting melibatkan tim tenaga profesional:
– dr. Meita Togas, dokter spesialis tumbuh kembang anak
– dr. Murni, dokter spesialis gizi klinik
– Psikolog pendamping
Pendekatan ini memastikan pemantauan tidak terbatas pada berat dan tinggi badan saja, melainkan mencakup aspek gizi, perkembangan anak, pola asuh, hingga dukungan psikologis keluarga.
Camat Sangatta Utara, Hasdiah, menambahkan bahwa gagasan pembentukan rumah ini lahir dari kesadaran bahwa pemberian makanan bergizi semata tidak cukup. Perubahan harus berakar dari pemahaman orang tua.
“Bukan hanya diberi makanan, kita lihat juga gizinya, pertumbuhannya, dan bagaimana pendampingan kepada orang tuanya. Kita ingin orang tua juga belajar, sehingga setelah program selesai, pola tersebut bisa terus diterapkan di rumah,” ungkap Hasdiah.
Komitmen ini diuji dengan tantangan pembiayaan. Kebutuhan program sekitar Rp1,8 miliar, sementara dukungan APBD tersedia sekitar Rp800 juta. Kreativitas menjadi kunci: dukungan PT KPC sebesar Rp150 juta, anggaran kecamatan untuk operasional dan penjemputan, serta dukungan berbagai pihak lainnya disatukan untuk menjaga keberlangsungan program.
Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi, mengapresiasi langkah sinergis tersebut. “Inovasi Bu Camat menggabungkan berbagai sumber dukungan agar program tetap berjalan. Insya Allah kita perkuat kolaborasi ini agar lebih banyak anak yang terbantu,” ujarnya.
Dengan 542 Keluarga Berisiko Stunting (KRS) di Kecamatan Sangatta Utara saja, perjalanan menuju target 2029 masih panjang. Namun Rumah Rehab Gizi Stunting telah membuktikan: dengan langkah tepat, dukungan lintas sektor, dan keteguhan tujuan, Kutim siap bergerak menjauh dari ancaman stunting menuju generasi emas yang tumbuh sehat dan cerdas. (Ir/adv)





