Business Matching: Strategi Jembatan Pasar dan Modal Baru Diskop UMKM Kutim
upnews.id SANGATTA — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) melalui Dinas Koperasi dan UMKM meluncurkan strategi baru yang lebih menyentuh kebutuhan riil pelaku usaha. Tak lagi sekadar mengandalkan pelatihan dan pameran, kini Diskop UMKM Kutim menjadikan business matching sebagai pilar utama pembinaan—mempertemukan pelaku UMKM langsung dengan pembeli, investor, hingga lembaga pembiayaan guna membuka peluang kerja sama yang nyata dan berkelanjutan.
Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kutim, Marhadyn, menegaskan bahwa pola pembinaan ke depan dibangun atas kesadaran: produk UMKM Kutim sudah berkualitas, namun belum tersambung dengan pasar yang membutuhkan dan sumber pendanaan yang memadai. Oleh karena itu, pemerintah hadir bukan sekadar menyediakan ruang tampil, melainkan menjembatani dua kebutuhan sekaligus—pasar dan modal.
“Ke depan kami ingin menghadirkan business matching sebagai bagian dari pengembangan UMKM. Jadi bukan hanya memamerkan produk, tetapi bagaimana mempertemukan pelaku usaha dengan pihak yang benar-benar membutuhkan produk mereka maupun yang dapat mendukung pengembangan usahanya,” ujar Marhadyn.
Selama ini, banyak produk unggulan Kutim belum menjangkau pembeli yang tepat. Di sisi lain, pelaku usaha kerap terhambat keterbatasan dana untuk menambah kapasitas produksi saat permintaan datang. Melalui forum business matching, kedua kebutuhan itu dipertemukan dalam satu wadah: menghadirkan pembeli, perbankan, lembaga keuangan, serta mitra potensial duduk bersama berdialog langsung dengan pelaku usaha.
Tujuannya bukan sekadar transaksi sesaat. Yang dikejar adalah kemitraan yang bertahan lama. Ketika pelaku usaha bertemu pembeli dan penyandang dana, peluang untuk berkembang meluas jauh lebih cepat.
“Yang kami harapkan bukan hanya transaksi sesaat, tetapi lahirnya kemitraan usaha yang berkelanjutan. Ketika UMKM bertemu dengan pembeli maupun lembaga pembiayaan, peluang untuk berkembang tentu akan semakin besar,” tegasnya.
Pertemuan langsung ini juga menjadi ruang belajar bagi pelaku UMKM. Dari dialog dengan calon pembeli, mereka menerima masukan langsung soal kualitas, kemasan, kapasitas produksi, hingga standar yang dibutuhkan pasar. Informasi itu menjadi bekal berharga untuk terus berbenah dan berinovasi, sehingga produk lokal mampu bersaing di kancah yang lebih luas.
Marhadyn menyampaikan, konsep ini akan menjadi agenda utama dalam pelaksanaan Gebyar UMKM mendatang. Kegiatan tak lagi sekadar ajang melihat-lihat, melainkan lahirnya kerja sama konkret, peluang usaha terbuka, serta akses pembiayaan yang bisa langsung dimanfaatkan pelaku usaha.
“Kalau selama ini orang datang ke pameran hanya melihat-lihat produk, ke depan kami ingin ada hasil yang lebih konkret. Ada kerja sama yang terbangun, ada peluang usaha yang terbuka, dan ada akses pembiayaan yang bisa dimanfaatkan oleh UMKM,” jelasnya.
Penguatan UMKM, lanjutnya, tidak bisa ditanggung pemerintah sendirian. Diperlukan kolaborasi lintas pihak. Karena itu, Diskop UMKM terus memperluas jejaring dengan dunia usaha, lembaga keuangan, dan sektor swasta sebagai mitra pembangunan.
“Semakin banyak pihak yang terlibat, semakin besar pula peluang UMKM kita untuk berkembang. Pemerintah hadir sebagai fasilitator yang mempertemukan pelaku usaha dengan berbagai peluang yang ada,” tuturnya.
Melalui strategi business matching ini, Pemkab Kutim berharap UMKM tak hanya mampu menjual lebih banyak produk, tetapi juga memiliki akses pasar yang lebih luas, sumber pembiayaan yang terbuka, serta kemitraan yang tumbuh berkelanjutan. Inilah fondasi agar UMKM semakin kokoh menjadi penggerak ekonomi kerakyatan dan peningkat kesejahteraan masyarakat Kutai Timur. (Ir/adv)






