Suara Hati Emak-Emak di Paser: Menjaga Jalan demi Nyawa dan Masa Depan Anak
Upnews.id, Paser-– Perlawanan warga di Batu Kajang dan Muara Kate terhadap truk batu bara ternyata bukan muncul tiba-tiba. Semuanya berawal dari rasa takut yang menumpuk setiap hari: takut kena debu, takut jalanan hancur, dan yang paling utama, takut anak-anak mereka celaka saat berangkat sekolah.
Bayangkan saja, selama 24 jam penuh, ribuan truk besar bermuatan belasan ton melintas tanpa henti di jalan umum yang seharusnya jadi tempat aman bagi warga.
“Kami Cuma Ingin Aman” Aspiana (49), salah satu warga Batu Kajang, menceritakan betapa mencekamnya suasana setiap pagi. Para ibu yang mau ke pasar atau mengantar anak sekolah harus “bertaruh nyawa” di antara iring-iringan truk.
“Banyak ibu-ibu yang tidak berani lewat karena ada yang pernah diserempet, bahkan ditabrak,” tuturnya. Kejadian tragis memang berulang kali terjadi, mulai dari kecelakaan akibat rem blong hingga jatuhnya korban jiwa, termasuk seorang pendeta muda dan seorang ustaz yang meninggal dunia dalam insiden terkait truk tambang.
Perlawanan yang Tak Kenal Lelah Karena merasa tidak ada tindakan tegas dari pihak berwenang, warga akhirnya bergerak sendiri sejak tahun 2023. Mereka mendirikan posko dan berjaga bergantian selama 24 jam untuk memastikan tidak ada truk batu bara yang lewat.
Hebatnya, para ibu berada di barisan paling depan. Mereka rela tidur di pinggir jalan, membawa anak kecil, dan meninggalkan urusan rumah tangga demi mengawal keselamatan warga.
“Kami berjaga siang sampai malam. Kalau sudah tengah malam, baru bapak-bapak yang lanjut berjaga,” kata Aspiana.
Tekanan dan Titik Terang Perjuangan ini bukan tanpa hambatan. Aspiana dan warga lainnya sempat mendapatkan tekanan, dituduh macam-macam, hingga rumahnya didatangi orang yang mencoba menyuap agar truk dibolehkan lewat. Namun, warga tetap teguh pada aturan bahwa jalan umum bukan untuk jalur tambang.
Puncak konflik terjadi saat posko warga di Muara Kate diserang orang tak dikenal pada akhir 2024, yang menewaskan seorang tokoh adat. Meski sempat ada drama hukum yang menyeret nama Misran Toni (salah satu warga yang ikut berjuang), akhirnya keadilan datang saat ia divonis bebas oleh pengadilan pada April 2026 ini.
Harapan Kedepan Setelah kunjungan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tahun lalu, kondisi perlahan mulai membaik. Jalan-jalan yang rusak mulai diperbaiki dan truk-truk besar sudah dilarang melintas di jalan negara.
“Sekarang kondisi sudah tenang. Harapan kami, selamanya jangan ada lagi truk tambang yang lewat sini. Kami cuma ingin hidup tenang tanpa debu dan rasa takut,” tutup Aspiana.
Perjuangan emak-emak di Paser ini jadi bukti nyata bahwa ketika keselamatan keluarga terancam, mereka tidak akan tinggal diam sampai keadaan benar-benar aman kembali.(Nt/Dr)






