Kutai Timur

Delapan Aspirasi Anak Kutim Disuarakan di HAN, dari Sekolah hingga Musrenbang

Upnews.id, SANGATTA – Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 tingkat Kabupaten Kutai Timur (Kutim) tak hanya menjadi ajang perayaan. Di momen ini, anak-anak Kutim juga mendapat ruang untuk menyampaikan langsung apa yang mereka harapkan dari pemerintah.

Hal itu terlihat saat perwakilan Forum Anak Kutim, Nona Anggun dan Randy Pieter Hutagalung, membacakan sekaligus menyerahkan delapan poin Suara Anak Kutim kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutim di Ruang Akasia, GSG Bukit Pelangi, Sabtu (25/7/2026) pagi.

Penyampaian aspirasi tersebut disaksikan Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman, Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Pusat Seto Mulyadi atau Kak Seto, jajaran Forkopimda, serta para tamu undangan.

Delapan poin tersebut merupakan hasil penjaringan aspirasi anak dari berbagai kecamatan di Kutim. Isinya cukup beragam, mulai dari persoalan pendidikan, keamanan di dunia digital, hingga keterlibatan anak dalam pembangunan daerah.

Poin pertama berkaitan dengan pemerataan akses pendidikan dan transportasi. Forum Anak meminta pemerintah menyediakan transportasi sekolah yang aman dan layak, terutama bagi anak-anak yang tinggal di wilayah pelosok dan pesisir.

Berikutnya, mereka mendorong terciptanya internet yang aman dan ramah anak. Pengawasan terhadap konten digital dinilai perlu diperkuat, sekaligus diimbangi dengan penyediaan ruang literasi digital yang sehat.

Persoalan bullying juga menjadi perhatian. Forum Anak meminta adanya satgas khusus serta mekanisme pengaduan yang aman dan menjamin kerahasiaan bagi anak yang mengalami perundungan di sekolah.

Tak kalah penting, mereka juga menyuarakan lingkungan tumbuh yang bebas asap rokok. Ajakan tersebut ditujukan kepada masyarakat agar keluarga maupun ruang publik dapat menjadi tempat yang lebih sehat bagi anak.

Aspirasi berikutnya menyangkut fasilitas ramah disabilitas. Forum Anak mendorong percepatan penyediaan sarana publik dan fasilitas pendidikan yang inklusif sehingga anak-anak berkebutuhan khusus dapat memperoleh akses yang setara.

Mereka juga meminta pemerintah memperbanyak Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan taman bermain anak yang aman serta mudah dijangkau di setiap kecamatan.

Pada poin ketujuh, Forum Anak menyoroti persoalan pernikahan usia dini. Edukasi mengenai kesehatan reproduksi dinilai perlu diperkuat, termasuk melalui pendampingan sebaya atau peer educator.

Sementara poin terakhir menyentuh soal partisipasi anak dalam pembangunan. Forum Anak meminta agar keterwakilan anak diberikan ruang dalam setiap forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), mulai dari tingkat desa hingga kabupaten.

Delapan aspirasi tersebut mendapat apresiasi dari Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman. Ia menilai keberanian anak-anak dalam menyampaikan aspirasi menjadi bagian penting dalam membangun daerah yang lebih ramah terhadap anak.

“Suara yang disampaikan oleh Nona Anggun dan Randy Pieter tadi adalah cermin jujur dari apa yang dirasakan anak-anak kita. Pemerintah Kabupaten Kutai Timur berkomitmen mengintegrasikan poin-poin aspirasi ini ke dalam program strategis Perangkat Daerah, mulai dari Wajib Belajar 13 Tahun, bantuan sekolah gratis, hingga pembangunan RTH kecamatan,” tegas Bupati Ardiansyah.

Menurutnya, aspirasi yang disampaikan Forum Anak bukan sekadar catatan, tetapi dapat menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam menyusun berbagai program yang berkaitan dengan kebutuhan anak.

Apresiasi juga datang dari Ketua Umum LPAI Pusat, Seto Mulyadi. Kak Seto memberikan acungan jempol atas keberanian Nona Anggun dan Randy Pieter membawa suara anak-anak Kutim ke hadapan pemerintah daerah.

Ia berharap Forum Anak Kutim tetap aktif menjalankan perannya sebagai Pelopor dan Pelapor atau 2P.

“Nona Anggun, Randy, dan seluruh jajaran Forum Anak Kutim adalah agen perubahan. Tetaplah menjadi anak-anak yang berani menyuarakan kebaikan, merangkul sesama, dan menginspirasi lewat karya-karya positif,” tutur Kak Seto.

Kegiatan kemudian ditutup dengan penyerahan dokumen “Suara Anak Kutai Timur” dari Nona Anggun dan Randy Pieter Hutagalung kepada Bupati Kutim.

Penyerahan tersebut menjadi simbol bahwa suara anak mendapat tempat dalam proses pembangunan daerah, sekaligus menjadi bagian dari upaya bersama mewujudkan Kutim sebagai Kabupaten Layak Anak (KLA).(Ir/Nt/Dr)

Baca Juga

Back to top button