Kutai Timur

Lindungi Petani dan Kukuhkan Pangan, Kutim Luncurkan Asuransi Tani Sinergi Teknologi Pertanian

upnews.id SANGATTA — Di balik hamparan sawah yang menghijau, ketidakpastian alam kerap menjadi bayang-bayang yang menyelimuti perjuangan petani. Banjir, kekeringan, hingga serangan hama dapat menghapus hasil kerja berbulan-bulan dalam sekejap. Ketika gagal panen terjadi, yang hilang bukan sekadar gabah, melainkan pula modal untuk kembali menanam. Menjawab tantangan itu, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) mengambil langkah terobosan: melindungi petani dari risiko sekaligus mendongkrak hasil panen lewat teknologi modern.

Didorong kebijakan Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman dan Wakil Bupati Mahyunadi, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kutim menggabungkan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) dengan program Pertanian Modern-Advanced Agriculture System (PM-AAS). Sinergi perlindungan dan teknologi ini menjadi pondasi baru bagi ketahanan pangan daerah, sekaligus memperkuat kemandirian pangan dan mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah.

Kepala DTPHP Kutim, Dyah Ratnaningrum, menjelaskan bahwa AUTP mulai dialokasikan melalui APBD Tahun Anggaran 2026 — langkah yang menjadi satu-satunya inisiatif sejenis yang dilaksanakan pemerintah kabupaten/kota se-Kalimantan Timur.

“AUTP ini memang baru kita alokasikan pada APBD 2026. Program ini menjadi bentuk perlindungan agar petani tidak menanggung sendiri kerugian ketika terjadi gagal panen.” Jelas Kepala DTPHP Kutim, Dyah Ratnaningrum

Pemkab Kutim menyiapkan anggaran sebesar Rp216 juta untuk melindungi lahan sawah seluas 1.200 hektare. Premi ditetapkan sekitar Rp180 ribu per hektare, dan bagi petani yang mengalami gagal panen akibat banjir, kekeringan, maupun serangan organisme pengganggu tanaman, tersedia uang pertanggungan sebesar Rp6 juta per hektare. Dana itu menjadi penopang agar petani tetap mampu kembali menanam tanpa harus memulai dari nol.

Seluruh luasan lahan yang masuk program telah diverifikasi bersama PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo), menjamin hanya areal yang benar-benar diusahakan petani yang mendapat perlindungan. Kerja sama pun telah resmi ditandatangani dan disaksikan Asisten Sekretaris Kabupaten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Noviari Noor. Pendaftaran akan dilakukan melalui aplikasi SIAP guna memastikan data tertib, transparan, dan tepat sasaran. Pelaksanaan AUTP ditargetkan berjalan mulai awal September 2026.

Perlindungan semata belum cukup. Di saat yang bersamaan, Pemkab Kutim mendorong penerapan PM-AAS — program modernisasi dari Kementerian Pertanian yang mengandalkan mekanisasi, pertanian presisi berbasis data, pengaturan jarak tanam, pemupukan berimbang, serta tata kelola air yang hemat dan efisien.

“Petani tidak hanya didorong meningkatkan produktivitas lewat teknologi modern, tetapi juga dilindungi saat menghadapi risiko gagal panen. Dengan begitu mereka lebih percaya diri meningkatkan usaha taninya.” Ucapnnya Dyah Ratnaningrum

Harapannya, produktivitas padi yang kini berkisar 5–6 ton per hektare dapat naik menjadi minimal 10 ton per hektare, bahkan di lokasi percontohan diproyeksikan melampaui 12 ton per hektare. Langkah ini sekaligus menjawab ketergantungan Kutim terhadap pasokan beras dari luar daerah yang rentan gejolak harga dan gangguan distribusi. Semakin mandiri pangan daerah, semakin kuat pula fondasi kesejahteraan masyarakat.

Ke depan, AUTP direncanakan terus dikembangkan — baik perluasan cakupan lahan maupun peningkatan dukungan anggaran — seiring bertambahnya partisipasi petani.

“Program AUTP ini sangat penting. Ke depan tentu bisa kita tingkatkan, baik luas lahannya maupun anggarannya, untuk mendukung ketahanan dan kedaulatan pangan di Kutai Timur.” Katanya Dyah Ratnaningrum

Sinergi AUTP dan PM-AAS menjadi bagian dari 59 program unggulan Pemkab Kutim yang membuktikan: di Kutai Timur, kemajuan pertanian tidak hanya diukur dari tingginya hasil panen, tetapi juga dari seberapa kuat petani dilindungi, seberapa canggih teknologi yang diterapkan, dan seberapa mandiri daerah dalam memenuhi kebutuhan pangannya sendiri. Ketika petani tenang bertani dan teknologi mendukung produktivitas, kemandirian pangan Kutai Timur bukan lagi sekadar cita-cita, melainkan kenyataan yang terus diperjuangkan bersama. (Ir/adv)

 

Baca Juga

Back to top button