Kutai Timur

Mahyunadi Tegaskan: Penanggulangan HIV/AIDS di Kutim Harus Serentak, Terarah, dan Menyentuh Akar Masalah

upnews.id SANGATTA — Meningkatnya jumlah Orang Dengan HIV (ODHIV) dari tahun ke tahun menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Untuk itu, Pemkab Kutim bertekad menyatukan langkah seluruh kekuatan daerah dalam satu komando guna menekan laju penularan secara menyeluruh, terukur, dan berkelanjutan.

Komitmen itu ditegaskan Wakil Bupati Kutim Mahyunadi usai memimpin Rapat Rencana Aksi Pencegahan HIV/AIDS dan Penyakit Menular Infeksi Seksual (PMIS) di Ruang Arau, Kantor Bupati Kutim, Kamis (6/8/2026). Rapat ini menjadi titik balik strategis agar penanganan tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan menyatu dalam langkah lintas sektor yang terintegrasi.

“Yang kita inginkan adalah semua program bergerak dalam satu arah. Jangan sampai ada kegiatan yang tumpang tindih, sementara kebutuhan lain justru belum tersentuh. Karena itu diperlukan penyusunan rencana kerja bersama yang disesuaikan dengan anggaran dan prioritas yang ada,” tegas Mahyunadi.

Selama ini, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, KPAD, Mahakam Plus, hingga para relawan sebenarnya telah berupaya. Namun belum terpadu sehingga dampaknya belum maksimal. Karena itu, rapat ini menjadi langkah awal pemetaan persoalan riil di lapangan. Hasilnya akan menjadi dasar penyusunan program kerja bersama yang dibahas kembali dalam rapat lanjutan pada Senin mendatang, guna merumuskan langkah operasional yang jelas dan terukur.

Penanganan tidak boleh hanya di bagian hilir—pengobatan semata. Harus juga menyentuh hulu penyebabnya. Oleh karena itu, Pemkab Kutim akan memperkuat pengawasan terhadap aktivitas berisiko penularan, sekaligus menertibkan praktik-praktik yang melanggar norma dan aturan. Edukasi pun diperluas hingga ke sekolah-sekolah, menanamkan pemahaman sedini mungkin kepada generasi muda agar memahami bahaya, cara penularan, serta pentingnya menjaga perilaku hidup sehat dan bertanggung jawab.

Mahyunadi menegaskan pendekatan harus seimbang: pengobatan terus ditingkatkan bagi yang membutuhkan, sementara akar penyebab penularan terus dipangkas lewat edukasi, pengawasan, dan penegakan aturan. Semua langkah itu diarahkan untuk mendukung pencapaian target. (Ir/adv)

Baca Juga

Back to top button