Penajam Paser UtaraUpnews

Normalisasi Sungai Tunan Picu Pergerakan Buaya ke Area Perkebunan di PPU

upnews.id PENAJAM PASER UTARA – Upaya normalisasi Sungai Tunan dan saluran drainase di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) berdampak pada berubahnya pola pergerakan satwa liar. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PPU, Nurlaila, mengungkapkan bahwa proyek tersebut memicu kemunculan buaya di area yang lebih dekat dengan aktivitas manusia.

Nurlaila menjelaskan, normalisasi dilakukan untuk mengantisipasi dampak pasang surut air laut, terutama saat pasang tinggi yang diperparah oleh aliran dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Adas. Kondisi ini mencakup wilayah Tunan, Waru, hingga kawasan sekitarnya.

“Pergerakan buaya ini mengikuti aliran air. Ketika terjadi pasang tinggi, mereka bisa masuk ke saluran drainase primer. Meski belum masuk ke permukiman warga, namun intensitas kemunculannya di area perkebunan sawit meningkat,” ujar Nurlaila.

Interaksi Satwa dan Manusia Meningkat
Meningkatnya interaksi antara satwa predator ini dengan manusia mulai memicu kerugian material. Nurlaila mencontohkan kejadian terbaru di mana seekor buaya memangsa ternak milik warga. Peristiwa ini menjadi indikasi kuat bahwa habitat buaya kini bersinggungan dengan lahan produktif masyarakat.

Mengenai penanganan teknis, Nurlaila menegaskan bahwa BPBD memiliki keterbatasan kewenangan. Menurutnya, penanganan satwa liar yang dilindungi merupakan otoritas penuh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

“Kami tidak bisa sembarangan melakukan tindakan terhadap hewan liar karena statusnya dilindungi. Penanganannya berada di bawah BKSDA,” tegasnya.

Langkah Mitigasi dan Kewaspadaan
Sejauh ini, BPBD PPU fokus pada langkah mitigasi berupa sosialisasi dan imbauan. Masyarakat, terutama yang beraktivitas di sekitar sungai, danau, maupun saluran air, diminta untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra.

Kondisi geografis PPU yang didominasi banyak aliran sungai kecil yang saling terhubung—mulai dari Sepaku, Babulu, Waru, hingga Tunan—membuat potensi kemunculan buaya sulit dihindari karena terhubung langsung dengan drainase perkebunan.

“Wilayah kita memang didominasi sungai-sungai kecil yang terhubung hingga ke drainase dekat permukiman. Jadi potensi kemunculan itu pasti ada,” tambahnya.

Nurlaila menekankan bahwa peran aktif masyarakat dalam menjaga diri adalah kunci utama, mengingat pengendalian satwa liar di alam bebas bukan perkara mudah. Saat ini, BPBD terus berkoordinasi dengan BKSDA untuk memperbarui data kemunculan satwa secara berkala setiap tiga bulan guna memetakan titik-titik rawan konflik satwa dan manusia.(He/em)

Baca Juga

Back to top button