Dinsos Kaltim & Balikpapan ‘Jemput Bola’ Selamatkan Masa Depan Keluarga Rentan
Upnews.id, Balikpapan – Strategi Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dalam memerangi kemiskinan ekstrem di Balikpapan kini mulai bergeser ke arah yang lebih mendalam. Bukan lagi sekadar bagi-bagi paket sembako, kolaborasi antara Dinsos Kaltim dan Dinsos Balikpapan kini fokus pada “penyembuhan” akar masalah: kesehatan dan pendidikan.
Langkah nyata ini terlihat saat tim gabungan menyambangi sebuah rumah di Kelurahan Gunung Sari Ilir. Di sana, petugas menemukan potret keluarga yang sedang berjuang keras; sang ibu terbaring sakit akibat stroke, sementara anak-anaknya terpaksa merelakan masa sekolah mereka terhenti demi keadaan.
Dalam kunjungan tersebut, petugas Dinsos Kaltim, Katrina, tidak hanya datang untuk mendata. Ia memberikan edukasi krusial mengenai pemanfaatan BPJS Kesehatan. Menurutnya, banyak keluarga rentan yang belum paham bahwa pemulihan kesehatan anggota keluarga bisa dilakukan secara maksimal tanpa harus menguras kantong jika menggunakan fasilitas negara dengan benar.
“Kami ingin memastikan kesehatan ibu tersebut tertangani tanpa mengganggu stabilitas ekonomi keluarga. BPJS harus dioptimalkan agar mereka tidak perlu pusing memikirkan biaya pengobatan rutin,” jelas Katrina.
Nasib anak-anak yang putus sekolah di keluarga tersebut juga langsung menjadi perhatian utama. Tim Dinsos memberikan solusi konkret dengan mengarahkan mereka ke jalur pendidikan non-formal melalui Program Kejar Paket B dan C.
Agar mereka punya masa depan yang lebih cerah dan mandiri, para remaja ini juga didorong untuk masuk ke Panti Sosial Bina Remaja Samarinda. Di sana, mereka akan digembleng dengan berbagai pelatihan vokasi (skill kerja) yang dibutuhkan pasar saat ini. Harapannya, mereka tidak lagi menjadi penerima bantuan, melainkan menjadi tulang punggung ekonomi keluarga yang andal.
Kepala Dinas Sosial Kota Balikpapan, Arfiansyah, memberikan dukungan penuh atas aksi “jemput bola” ini. Baginya, melihat langsung kondisi di lapangan jauh lebih efektif daripada sekadar menerima laporan di balik meja.
“Sinergi ini memastikan intervensi kita tepat sasaran. Fokus kita jelas: mengubah status masyarakat dari yang tadinya rentan menjadi mandiri. Caranya? Lewat akses kesehatan dan pendidikan keterampilan,” tegas Arfiansyah dengan mantap.(Nt/Dr)






