Dinkes Kutim Evaluasi Pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis Anak Sekolah, Temukan 5 Penyakit Utama

Upnews.id, Sangatta — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Timur menggelar Rapat Penguatan Lintas Program dan Lintas Sektor Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi Anak Usia Sekolah dan Remaja di Aula Dinkes Kutim, Jalan Perkantoran Bukit Pelangi, Rabu (26/8/2026).
Kegiatan yang dihadiri perwakilan sekolah se-Kutim secara tatap muka maupun daring ini menegaskan komitmen Pemkab Kutim menjamin pelayanan kesehatan menyeluruh bagi generasi penerus pembangunan daerah.
Baca juga : Bupati Kutim Resmikan Bakti Sosial Gabungan Organisasi Profesi Kesehatan
Kepala Dinkes Kutim, dr. Yuwana Sri Kurniawati, menegaskan bahwa anak usia sekolah hingga 18 tahun adalah kelompok paling krusial sebagai pilar estafet pembangunan Kutim.
“Menghasilkan generasi emas yang produktif, cerdas, dan berprestasi bukan sekadar impian, melainkan investasi jangka panjang yang harus dipersiapkan sejak dini. Dan investasi terbesar dimulai dari satu hal, kesehatan,” ujarnya.
Berdasarkan data screening per 1 Januari 2026, dr. Yuwana mengungkapkan lima masalah kesehatan utama yang menjadi perhatian serius di kalangan pelajar Kutim.
1. Karies Gigi, dengan angka kasus hingga 47,24%, dimana hampir separuh anak sekolah mengalami gigi berlubang yang dapat mengganggu konsentrasi belajar akibat rasa sakit.
2. Anemia diangka 27,49%, kasus tertinggi pada siswa kelas 7 dan khususnya remaja putri kelas 10.
“Ini ancaman serius, remaja putri adalah calon ibu masa depan. Jika anemia, risiko melahirkan bayi berat lahir rendah dan stunting meningkat. Ini lingkaran setan yang harus diputus sejak dini,” tegas dr. Yuwana.
Dimana target nasional stunting diangka 14%, dan Kutim kini masih berada di angka 16%, butuh kerja keras semua pihak.
Baca juga : Ratusan Relawan SPPG Kutim Resmi Jadi Peserta BPJS Kesehatan
3. Hipertensi diangka 17,11%, angka mengejutkan pada usia muda. Hal ini terkait pola makan tinggi gula dan lemak, serta gaya hidup kurang gerak dan stres akibat penggunaan gawai berlebih.
4. Penumpukan Kotoran Telinga/Serumen Impaksi diangka 13,24%, kondisi ini akan mengganggu pendengaran sehingga proses belajar anak tidak maksimal, maka dilerlukan tindakan medis khusus.
5. Kurang Gizi diangka 9,52%, pemenuhan asupan gizi seimbang belum tuntas, di sisi lain juga muncul kasus obesitas akibat pola makan tidak sehat.
Dr. Yuwana meminta dukungan seluruh sekolah untuk memastikan pemberian tablet tambah darah bagi remaja putri minimal seminggu sekali hingga lulus SMA.
“Kami juga mohon dukungan untuk mensosialisasikan pentingnya menunda pernikahan hingga usia minimal 19 tahun. Pernikahan dini meningkatkan risiko stunting pada keturunan berikutnya,” imbaunya.
Baca juga : Penjualan Alat Tulis dan Seragam Sekolah Jelang Ajaran Baru Alami Kelesuan
Program Cek Kesehatan Gratis ini akan berjalan melalui sinergi Puskesmas, UKS sekolah, Dinas Pendidikan, Kemenag, hingga peran aktif orang tua.
“Kesehatan anak sekolah tidak bisa dilakukan sendirian. Butuh kolaborasi lintas sektor agar setiap anak Kutim mendapat pelayanan kesehatan yang merata dan berkualitas,” pungkas dr. Yuwana.
Dengan program ini, Pemkab Kutim berharap tidak hanya menekan angka stunting dan masalah kesehatan, tetapi juga meletakkan fondasi kuat bagi lahirnya generasi muda Kutim yang sehat, cerdas, dan siap membawa daerah semakin maju. (Ir/Dr)






